Bidiknews.co.id-Siapa sebenarnya Ayatollah Ali Khamenei yang dikenal sebagai pemimpin tertinggi Iran dan bagaimana perannya dalam politik negara tersebut sampai disebut-sebut tewas dalam serangan militer asing pada 28 Februari 2026?
Pertanyaan ini muncul di berbagai pencarian sejak kabar terbaru menggemparkan dunia. Untuk memahami dampak peristiwa tersebut, penting mengetahui siapa dia dan apa arti kepemimpinan Khamenei dalam sejarah Iran modern.
Ayatollah Ali Khamenei bukan sekadar tokoh pemerintahan. Ia adalah tokoh kunci dalam sistem politik dan agama Iran sejak Revolusi Islam 1979 dan menjadi Pemimpin Tertinggi negara selama hampir empat dekade. Nama dan kebijakan yang diambilnya telah mempengaruhi arah hubungan Iran dengan dunia luar, terutama dengan Amerika Serikat dan Israel.
Berikut ini pemaparan komprehensif tentang riwayat hidup, jalur politik, kekuasaan, kebijakan luar negeri, serta kontroversinya di panggung global.
Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan Awal
Ayatollah Ali Khamenei lahir pada 19 April 1939 di kota Mashhad, sebuah pusat keagamaan penting bagi Syiah di Iran. Ia tumbuh dalam keluarga religius dan sejak muda tertarik pada pembelajaran Islam di seminari Qom, tempat ulama-ulama terkemuka mengajar.
Sejak muda, Khamenei terlibat dalam aktivitas melawan monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi. Ia beberapa kali ditangkap dan dipenjara oleh SAVAK, badan intelijen rezim Shah, karena ikut serta dalam protes dan perlawanan terhadap pemerintahan otoriter tersebut. Keteguhan tempo dulu ini membentuk pandangan politiknya sepanjang hidup.
Peran Selama Revolusi Iran 1979
Khamenei memainkan peran penting dalam Revolusi Iran 1979 yang mengakhiri kekuasaan monarki dan mendirikan Republik Islam. Ia adalah pendukung setia Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang menjadi pemimpin revolusi dan kemudian pemimpin spiritual pertama Republik Islam Iran.
Kedekatan Khamenei dengan Khomeini membuatnya menjadi anggota penting Dewan Revolusi setelah revolusi berhasil menggulingkan Shah.
Revolusi ini mengubah Iran dari sebuah negara monarki sekuler menjadi republik teokratis — sistem yang menggabungkan pemerintahan politik dengan otoritas agama Islam Syiah.
Karier Politik Awal dan Jabatan Presiden
Setelah revolusi, Khamenei menjabat sebagai Presiden Iran dua periode, yaitu pada 1981 dan 1985. Posisi itu membuatnya berada di pusat administrasi negara, meskipun kekuatan politik eksekutif masih dibatasi oleh struktur pemerintahan yang baru.
Sebagai presiden, ia berperan dalam konsolidasi sistem teokratis dan memperkuat lembaga negara baru. Meskipun jabatan presiden tidak memiliki wewenang sebesar posisi Pemimpin Tertinggi, masa ini membangun landasan kuat bagi jalur kekuasaan Khamenei.
Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran
Ketika pendiri Republik Islam Ayatollah Ruhollah Khomeini wafat pada 1989, sistem politik Iran memerlukan penerus yang diyakini bisa menjaga prinsip revolusi. Walau pada awalnya tidak dianggap sebagai ulama paling senior di Iran, Khamenei dipilih untuk menggantikan Khomeini sebagai Rahbar (Pemimpin Tertinggi). Untuk itu, konstitusi disesuaikan agar ia memenuhi persyaratan jabatan tersebut.
Sejak 1989, posisi itu memberinya kekuasaan absolut dalam struktur politik Iran. Ia menjadi figur paling berpengaruh, memiliki otoritas tertinggi atas semua lembaga pemerintahan, militer, dan urusan luar negeri.
Kekuasaan Politik dan Kontrol Lembaga Negara
Sebagai Pemimpin Tertinggi, Khamenei memiliki wewenang yang jauh melampaui presiden atau parlemen. Ia memiliki hak untuk:
- Menunjuk kepala kehakiman Iran
- Menetapkan komandan pasukan militer
- Memilih kepala media negara dan badan intelijen
- Mengendalikan kebijakan luar negeri dan keamanan negara
- Memveto keputusan legislatif dan eksekutif yang bertentangan dengan interpretasi prinsip negara Islam
- Mengawasi program nuklir dan strategi regional Iran
Kehadiran Ayatollah Khamenei membuatnya menjadi faktor penentu dalam hampir setiap keputusan penting, baik domestik maupun internasional.
Hubungan dengan Militer dan IRGC
Di bawah kepemimpinannya, struktur militer Iran ikut berubah. Kekuasaan militer yang paling signifikan berada pada Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC), yang menjadi alat utama untuk menegakkan kontrol domestik dan memperluas pengaruh luar negeri Iran.
IRGC tidak hanya berperan dalam aspek pertahanan nasional, tetapi juga dalam ekonomi dan politik internal. Ia memiliki cabang elit bernama Quds Force yang terlibat dalam operasi luar negeri Iran, termasuk dukungan bagi kelompok pro-Iran di Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman.
Khamenei mengawasi semua ini dari puncak kekuasaan, memastikan struktur tersebut berfungsi sesuai dengan visi teokratisnya.
Politik Luar Negeri dan Ketegangan Regional
Selama masa jabatan panjangnya, Ayatollah Khamenei menentukan arah kebijakan luar negeri Iran yang sering kali berkonfrontasi dengan Amerika Serikat dan Israel.
Isu utama yang selalu menjadi fokusnya adalah:
- Penolakan terhadap apa yang disebutnya “hegemonisme Barat”
- Dukungan terhadap bangsa Palestina dan kelompok perlawanan
- Penolakan keras terhadap Israel
- Kebijakan nuklir Iran yang memicu ketegangan internasional
Hubungan dengan negara-negara Barat, terutama AS, sering kali memanas dalam berbagai periode. Ketidaksepakatan tentang nuklir Iran, sanksi ekonomi, dan dukungan Tehran terhadap kelompok proxy di kawasan terus menjadi sumber konflik berkepanjangan.
Kontroversi dan Reaksi Internasional
Kepemimpinan Khamenei juga sangat kontroversial. Kritik utama datang dari sisi hak asasi manusia, kebebasan sipil, dan perlakuan terhadap oposisi. Berbagai kelompok internasional menilai rezim Iran, di bawah arahan Khamenei, telah membatasi kebebasan berekspresi, menekan protes rakyat, dan menindak keras lawan politik maupun minoritas.
Jika dilihat dari sudut pandang internasional, kebijakan luar negeri Iran di bawah Khamenei dianggap konfrontatif, terutama dengan Israel dan negara-negara Barat. Ini menjadi salah satu penyebab ketegangan militer yang terus mengemuka di Timur Tengah.
Reaksi Dunia atas Kematian Khamenei
Kabar terbaru menyatakan bahwa Ayatollah Ali Khamenei telah tewas dalam serangan militer bersama oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026. Peristiwa ini menciptakan gelombang reaksi global yang luas:
- Kecaman dari negara-negara seperti Rusia, yang menyebutnya sebagai pelanggaran norma internasional.
- Janji balasan dari Iran, termasuk pernyataan presiden Iran yang bertekad untuk menuntut pembalasan atas kematian pemimpin tertinggi.
- Perdebatan di Dewan Keamanan PBB mengenai legalitas dan dampak serangan tersebut.
Kematian seorang pemimpin dengan pengaruh kuat selama lebih dari tiga dekade seperti Khamenei diprediksi akan menciptakan kekosongan kekuasaan yang signifikan di Iran dan memicu perubahan besar dalam dinamika geopolitik Timur Tengah.
Warisan dan Kontroversi Khamenei
Warisan Ali Khamenei di Iran dan dunia sangat kompleks. Di satu sisi, banyak pendukung melihatnya sebagai pelindung kedaulatan Iran dan penolak intervensi asing.
Di sisi lain, para kritikus mencela pemerintahannya sebagai otoriter, mengekang demokrasi, dan bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia yang luas.
Wawasan ini mencerminkan dua sisi kepemimpinan yang berpengaruh besar terhadap arah politik Iran dan perannya di panggung dunia.
Kesimpulan
Ayatollah Ali Khamenei adalah sosok yang tidak mudah dipahami jika hanya dilihat dari satu sisi saja. Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran selama hampir empat dekade, ia bukan hanya figur politik, tetapi juga pusat kendali agama, militer, dan kebijakan strategis negara. Perannya telah membentuk kebijakan domestik dan luar negeri Iran dengan dampak yang jauh melampaui batas negara itu sendiri.
Kematian Khamenei dalam serangan militer pada 28 Februari 2026—jika konfirmasi berita resmi terus dipertegas menandai akhir era panjang dan kontroversial dalam sejarah Republik Islam Iran, serta membuka babak baru dalam hubungan global, terutama di kawasan Timur Tengah yang penuh ketegangan.
