Jangan Sampai Terkena, Covid Itu Berat..!
Catatan Melawan Virus yang Menakutkan


🕔25 Nov 2020 👁 Dibaca:   816 kali  

Jangan Sampai Terkena, Covid Itu Berat..!

Gambar : Suyono SE


SALAM sejahtera untuk semua sahabat saya. Sehat selalu, jangan sampai terkena Coronavirus Disease 2019. Kena  Covid-19 itu berat. Pengalaman saya selama 17 hari dikarantina di rumah sakit, proses penyembuhan covid untuk yang bergejala, lumayan berat. Setiap hari disuntik di tangan 9 kali, pagi tiga  kali,  siang tiga kali, malam tiga kali. Suntik perut dua sekali setiap hari pagi dan sore. Pertama masuk ruangan isolasi diambil darah di tangan dan paha. Diambil darah di paha menyakitkan, tiga kali tusuk baru kena nadinya. Minum obat sehari 33 biji, pagi 9, siang 9, malam 15  berupa tablet dan kapsul dan dilarutkan di air, sebagian besar vitamin dan suplemen. Sehari dua kali diinfus vitamin dan antibiotik, pagi dan sore masing-masing dua botol, perbotol isi 100 cc.  Setiap hari tiga kali hidung diuap (nebo), napas dibantu oksigen, dua kali foto rontgen paru-paru. Tidak boleh keluar ruangan kecuali berjemur 15 menit,  dilarang ditunggu, dilarang dibesuk. 
Selama 6 hari ketika covid masih bergejala, muncul banyak rasa sakit. Perut sebah, mual, muntah, pusing, tidak enak makan, tidak bisa tidur.  Saya yang tidak punya penyakit penyerta (komorbit) merasakan berat di awal proses penyembuhan. Bayangkan betapa berat perjuangan saudara kita pasien covid yang punya penyakit penyerta hipertensi,  diabetes melitus,  penyakit jantung,  penyakit paru kronis, penyakit ginjal dan lainnya. Kematian pada pasien covid-19, semuanya adalah pasien kormobit. Perlu diketahui, negara membayar mahal untuk pengobatan pasien covid-19. Menurut Juru Bicara Satgas Covid-19 Reisa Broto Asmoro, satu pasien covid-19 menghabiskan hingga Rp 184 juta dengan rata-rata lama perawatan 16 hari rawat inap. Tidak dijamin asuransi seperti BPJS Kesehatan, dibayar langsung oleh negara. 
Dalam penanganan pasien covid-19, tim medis Rumah Sakit Pertamina (RSPB) tempat saya dirawat,  bekerja totalitas.  Garda terdepan itu super sibuk dan kerja berat. Pasien covid-19 dipantau 6 dokter spesialis, dr Elies Pitriani SpP, dr Rudy Mokodompit SpPD, dr Subagyo SpP, dr M Iqbal SpJP, dr Djuhani P Putri SpKJ dan dr Fajar Rudi Qimindra SpS (dr Qimi) dibantu puluhan perawat yang setiap hari melakukan visit baik secara langsung maupun video call (VC). Para perawat yang memakai APD, dari kelopak matanya yang terlihat, bercucuran keringat menahan panas. 
 AWALNYA saya demam biasa. Seperti kebiasaan sebelumnya, minum dua tablet salah satu merek sudah sembuh. Namun kali ini demam berhari-hari tak sembuh meski habis belasan tablet obat anti demam. Ditambah batuk berdahak yang membuat tak bisa tidur. Menginjak hari kelima ditambah sesak napas. 
Siang, saya diantar istri dan anak pertama ke Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB).  Setelah dirawat di UGD sekaligus diambil cairan hidung dan dahak untuk uji swab, usai Magrib saya dibawa ke ruang VIP Tulip yang merupakan kamar untuk karantina pasien covid. Masuk ke ruangan itu, hati dan pikiran saya campur aduk, antara bingung dan takut. “Bapak di sini, tidak boleh keluar, tidak boleh ditunggu, tidak boleh dijenguk. Kalau ada pengantaran makanan, taruh di bawah, nanti kami ambilkan. Pesan makanan pakai gojek tidak boleh bayar pakai tunai,” kata perawat yang makin membuat deg-degan. 
Pukul 10 pagi di  hari pertama dirawat, dokter ahli paru penanggung jawab pasien covid-19 dr Elies Pitriani SpP mengenakan baju hazmat datang memberi salam. “Halo Pak. Kita berteman lo di fb. Tetap semangat ya. Bapak yang sabar dan optimis, dibikin enjoy saja,” ujarnya ramah didampingi dua perawat perempuan   yang semuanya mengenakan alat pelindung diri (APD) mulai baju hazmat, masker, face shield, sarung tangan dan sepatu boot. “Bagaimana Bu Dokter, hasil swab,” tanya saya.  “Ya, Bapak positif (covid-19). Tenang, bisa sembuh kok,” jawab dr Elis. “Astagfirullah...aduh,” jawabku. “Tenang Pak, berpikiran positif, tetap semangat, dan berdoa,” hibur dr Elies.
Dua jam kemudian, masuk pesan WhattAps (WA) Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan dr Andi Sri Juliarti. “Asalamualaikum Mas Ono. Kabarnya lagi WFH (work for home) ya”. 
“Saya sudah di RSPB, Bu. Kabar dari dokter Elies, saya positif covid,” jawab saya. Dokter yang akrab dipanggil dokter Dio langsung melakukan tracing (pelacakan). “Tolong minta daftar teman-teman satu kantor yang pernah kontak langsung dengan Mas Ono 14 hari sebelumnya”. 
Dari nama-nama teman kantor, diakukan swab. Esoknya, heboh, hasil swab 10 teman sekantor semua positif terpapar corona. Masuk lagi WA dari dr Dio. “Mas, tolong istri dan anak-anak ikut swab”, pesan dr Dio yang membuat  hati dan pikiran tambah amburadul.
Sehari kemudian dapat kabar yang makin menambah sesak napas. Dokter Dewa dari DKK Kota Balikpapan mengabarkan istri saya dan anak saya positif.  Anak pertama Abdul Jabar gejala penciuman hilang, langsung saya suruh datang ke RSPB dan masuk ruang isolasi Tulip. Otomatis di keluarga saya ada dua yang masuk karantina di RSPB, saya dan anak saya Jabar. Sedangkan istri dan dua anak saya menjalani isolasi mandiri di rumah karena kondisi sehat tanpa gejala (OTG). Keluarga saya pun masuk fenomena baru penyebaran covid-19, yaitu klaster keluarga. 
Warga di perumahan saya pun heboh, teman-teman ramai. Sanksi sosial mulai terasa. Bu Dhe Agus pengurus PKK kirim WA,”Pak RT, demi kebaikan bersama mohon Bu RT jangan keluar rumah. Anak-anak jangan ke musala dulu. Kalau perlu makanan bilang saja, nanti ditaruh di pagar rumah”. Malam itu juga, pengurus musala Da’watus Solihin menggelar doa tolak bala dan keselamatan dari wabah, pelayanan RT ditutup. Beruntung, tidak ada warga yang hendak mengurus surat nikah. Rumah yang dulu ramai lalu lalang warga, penjual sayur, penjual bakso, penjual es krim dan penjual salome, sepi, tidak ada yang berani lewat depan dan samping rumah. Tambah menakutkan, dapat kabar teman di Samarinda Arif Afifi meninggal dunia karena covid setelah dirawat 3 hari di rumah sakit. Meninggal di usia 46 tahun. Innalillahi wainailaihi rojiuun.
Efek dari psikis saya yang down, muncul rasa sakit lainnya. Perut mual, tidak mau makan, susah BAB, susah buang air kecil, pusing dan susah tidur. Kondisi menyiksa berlangsung selama 6 hari.  Seperti yang dikatakan dr Elies, corona merupakan penyakit 1000 wajah. Pasien yang stres, mental down, corona semakin leluasa menggerogoti tubuh sehingga muncul keluhan penyakit lain.

Di kala semangat jatuh, bertubi-tubi datang penyemangat. VC dari dokter Qimi dan istri dr Lilik Sujarwati SpM mengirim madu dan buah. Kemudian terima WA dari Kepala DKK dr Dio memberi semangat, data di Balikpapan, 81 persen pasien covid sembuh. 
Masuk juga VC dari Wali Kota Balikpapan HM Rizal Effendi SE yang kala itu ngopi bareng H Zainal Mutaqien (tokoh pers). “Wah, ini kok malah masuk rumah sakit. Semangat-semangat, cepat sembuh,” ujar Rizal. Menyusul kemudian VC dari Dandim 0905 Balikpapan Kolonel Arm I Gusti Agung Putu Sujarnawa bersama teman-teman jurnalis. “Semangat,  cepat sembuh Bang Ono”. 
Kapendam VI Mulawarman Kolonel Kav Dino Martino, Pasi Ops Korem 091/ASN Kolonel Inf Hendry Wijaya, Bid Humas Polda Kaltim AKBP Yustiadi, Ketua DPRD Balikpapan Abdulloh SSos, anggota DPRD Balikpapan HM Johny NG, pengurus PWI Kaltim, PWI  Kota Balikpapan, Ketua Srikandi PP Hj Yuli Sinta Novianti, pengurus MPC PP Kota Balikpapan, Ketua Karang Taruna Balikpapan yang juga Kadisdik Muhaimin MT serta pengurus, Sekretaris MUI Balikpapan H Jailani, H Sutrisno warung Nyiurku, Bahyat Talhauni SH MH dan rekan-rekan advokat, Wakil Kepala Sekolah SLB Tunas Bangsa Hj Susan, Kepala SMAN Balikpapan Ustaz Drs H Zainuri, pengurus NCW, para Lurah, LPM, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Ketua RT, warga RT 53 Mandastana Batu  Ampar, komunitas paramotor, arisan keluarga Bendo Magetan,  teman-teman PSHT Balikpapan, para guru teman istri, serta teman-teman kantor  juga mengirim pesan memberikan semangat. WA grup teman alumni SD, SMP, SMA hingga teman kuliah turut mengirim doa. Tak ketinggalan VC dari keluarga di Jawa Timur. 
Sungguh kekuatan doa semangat dari keluarga, para tokoh, sesepuh dan sahabat luar biasa dan nyata. Seperti mendapat mukzizat, di hari ketujuh setelah kondisi drop lahir dan batin, tiba-tiba badan saya terasa ringan dan hati gembira, semua keluhan sakit hilang semua. Itu saya rasakan setelah bangun tidur saat mendengar azan Subuh dari Masjid Istiqomah yang berjarak sekitar 500 meter dari RSPB. Setelah salat Subuh, badan terasa segar.
Ketika jam 10 pagi di-VC dokter Iqbal, saya pun langsung menjawab dengan suara lantang. “Alhamdulillah, Dok. Saya sehat, badan segar, tidak ada keluhan sama sekali”. “Mantap, terus semangat Pak Suyono,” kata dr Iqbal.
Aroma makanan yang semula membuat perut mual, berubah mengundang selera. Dapat jatah makan dan cemilan masih terasa lapar, saya pun minta dikirimi makanan ringan untuk ngemil.
Suntikan sekali suntik tiga kali pagi, siang dalam malam, suntikan di perut dua kali pagi dan malam, infus tiga kali pagi siang dan malam yang semula terasa nyeri, tak terasa sakit lagi. Napas pun tak lagi dibantu oksigen.  
 Tambah menyenangkan lagi, anak saya Jabar di ruangan sebelah juga sehat, meski penciuman belum sempurna. Istri saya dan dua anak saya yang menjalani isolasi mandiri di rumah juga sehat, tidak ada keluhan apa-apa. 
Saking gembiranya, saya senam sendiri di ruangan karena saat itu jadwal berjemur ditiadakan, matahari tidak muncul. Saya unggah video senam di medsos mendapat respon luar biasa, 288 like, 442 komentar,  250 messenger berisi dukungan semangat dan doa.
Sejak itulah, saya bersemangat berjemur dan olahraga. Puluhan pasien covid dibagi 3 kelompok, masing-masing diberi waktu 15 menit, saya selalu ikut kelompok pertama sampai terakhir sehingga dapat waktu 45 menit untuk berjemur dan olahraga di belakang gedung RSPB bagian ujung (side wing). Dengan panjang lintasan hanya 20 meter, saya targetkan lari bolak-balik 50 kali, loncat-loncat 100 kali dan jalan bolak-balik 50 kali, keringat keluar, badan segar.
Di saat berjemur itulah, teman-teman pasien covid banyak bercerita keluhan-keluhan  seperti mual, diare, pusing, tidak enak makan, tidak bisa tidur, gula darah naik, hipertensi dan lainnya. Bahkan seorang dokter muda di salah satu perusahaan tambang, sempat masuk ICU selama 5 hari karena drop.  “Rasanya badan lemas dan mau pingsan,” ujar dokter yang terpapar corona di lokasi tambang.
“Alhamdulillah, saya sehat dan tidak ada keluhan. Badan terasa enteng dan segar. Ayo bapak-bapak, semangat, cepat pulang kita,” ujar saya sok memberi semangat. 
Menempati ruang VIP, menu makan di RSPB tak diragukan kandungan gizinya. Lauk ikan laut, ayam goreng, tahu, tempe, sup lengkap buah-buahan dan wajib mengenakan baju pasien. Di sela sarapan dan makan siang diberi snak roti, lumpia, terkadang donat. Tak ketinggalan setiap hari dua saset teh dan satu saset susu untuk diseduh sendiri.  Khusus sarapan bisa request 6 jenis menu kepada perawat. Bagi pasien punya riwayat gangguan pencernaan, hipertensi, diabetes dan kolesterol tinggi dilarang pesan nasi goreng, bubur sumsum,  mie goreng dan nasi kuning. Mereka disarankan pesan menu bubur ayam, nasi sop atau kentang rebus.  Setiap jam 9 pagi, 12 siang dan 5 sore, perawat turun ke bawah mengambil kiriman makanan atau barang untuk pasien. Setiap pukul 10 malam menjelang istirahat,  para perawat selalu berpesan. “Bapak ibu, masih ada yang kami bantu? Sebelum kami melepas APD,”.
Meski badan sudah terasa enak, intensitas suntik, minum obat dan menghirup uap (nebo) tidak dikurangi. Badan sudah terasa enak, selanjutnya melawan rasa jenuh. Main game tidak bisa, karena memang saya tidak suka ngegame. Untuk mengusir jemu, VC teman-teman dan keluarga, bercanda di WA grup teman-teman. Selepas Magrib mendengarkan murotal Prof  Syekh Saud bin Ibrahim bin Muhammad Al-Syuraim PhD, imam dan khatib Masjidil Haram, mendengarkan ceramah Ustaz Adi Hidayat (UAH), ceramah Ustaz Abdul Somad (UAS), KH Zainuddin MZ, Syekh Ali Jaber.   Selanjutnya untuk memancing rasa kantuk, nonton wayang kulit di youtube. Kalau belum ngantuk juga, lanjut nonton film kartun canel terry toon, kadang upin-ipin. Selera saya nonton yang serius-serius (berita) berubah total, suka nonton film kartun yang lucu-lucu. TV di ruangan, selalu cari film kartun seperti keluarga Somat, keluarga Omar dan Hana, Marsha dan beruang.
Selain melawan bosan, juga diliputi rasa cemas menunggu hasil swab. Sebanyak 5 kali swab, hasilnya masih positif.  Sedangkan anak saya Jabar, lebih dulu negatif. Dua kali swab positif, dua kali swab hasilnya negatif, boleh pulang setelah 10 hari menjalani perawatan.

“Kalau berdoa jangan minta hasil swab negatif, nanti malah bikin cemas. Baiknya doa minta diberikan yang terbaik oleh Allah,” ujar dr Subagyo menghibur saya. Swab keenam, Alhamdulillah negatif.    Kabar menggembirakan itu disampaikan dr Elies Pitriani. “Hasil swab Pak Suyono negatif. Nanti boleh pulang,” ujarnya saat visit pagi di hari ke 17.  
Selanjutnya perawat melepas jarum yang menancap di tangan kiri saya yang dipakai untuk suntik dan infus setiap hari. Jarum suntik itu sebelumnya di tangan kanan, karena bengkak, pindah ke tangan kiri. 
Serasa ingin melompat tinggi-tinggi ketika  mendapat pesan WA dari perawat pukul sekitar 14.30 Wita. “Selamat siang pak.  Jika sudah siap untuk pulang,  boleh ke meja perawat untuk mengambil surat dan obat. Sebelum keluar kamar, bapak mandi dan ganti baju bersih serta semua barang sekalian dibawa. Jadi tidak bolak ke kamar lagi”. Saya langsung sujud syukur di ruangan.  Sampai di rumah, gembira disambut istri dan anak-anak. Istri dan dua anak yang menjalani isolasi selama 14 hari, sehat tidak ada keluhan apapun dengan menjaga pola makan. Banyak makan buah, vitamin dan madu. 
Selanjutnya saya menjalani isolasi di rumah selama 10 hari, tetap minum vitamin dan suplemen sehari 13 biji (tablet dan kapsul) ditambah sirup anti maag diminum sebelum makan.
Selasa (24/11) kemarin, masa isolasi saya sudah habis, kembali kontrol di poli paru RSPB. “Alhamdulillah Pak, paru-parunya bagus. Tetap jaga imun, makan banyak  mengandung vitamin. Tetap memakai masker, jaga kebersihan rajin cuci tangan,  jaga jarak kalau bisa hindari kerumunan,” ujar dokter ahli paru, dr Subagyo. Pulang kontrol masih dibawakan 60 kapsul vitamin yang harus diminum setiap hari 2 biji. 
Dari catatan tersebut, virus corona juga memberikan pelajaran kepada saya agar jangan sombong. Saya awalnya meremehkan, sering lepas masker, sering ngopi rame-rame  tanpa masker, tanpa menjaga jarak. Bahkan saya belum 100 persen percaya virus corona. Ternyata corona itu ada, nyata, bukan rekayasa. Terimakasih kepada tim medis dan semua pihak yang memberi semangat sampai saya bisa sembuh dari virus menakutkan itu. Salam sehat, tetap semangat!. (*)




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

Write a comment

Ada 2 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment