Bidiknews.co.id-Apakah harga emas yang sekarang mendekati Rp 3 juta per gram masih bisa disebut murah. Atau justru beberapa tahun lagi angka itu akan terlihat seperti “harga diskon” yang tak terulang.
Pertanyaan ini makin sering muncul setelah emas mencetak rekor tertinggi baru di awal 2026 dan memicu perdebatan di kalangan investor.
Isu mengenai benarkah 2026 menjadi tahun terakhir harga emas murah tidak muncul tanpa alasan. Kenaikan tajam dalam satu tahun terakhir, aksi borong bank sentral dunia, hingga prediksi harga emas 2026 dari lembaga keuangan global membuat banyak orang khawatir tertinggal momentum. Di sisi lain, ada juga yang takut membeli di puncak harga. Lalu, mana yang lebih mendekati fakta.
Kali ini kami membahas data historis, faktor global, proyeksi analis, serta strategi realistis bagi kamu yang sedang mempertimbangkan investasi emas 2026.
Kilas Balik Harga Emas dari 2020 hingga 2026
Untuk memahami apakah 2026 benar-benar menjadi titik terakhir harga emas murah, kita perlu melihat perjalanan beberapa tahun ke belakang. Emas bukan baru kali ini mencetak rekor. Namun pola kenaikannya sejak 2020 tergolong agresif.
Pada awal 2020, harga emas ANTAM masih berada di kisaran Rp 800.000 per gram. Pandemi COVID-19 menjadi pemicu awal lonjakan signifikan karena ketidakpastian ekonomi global meningkat drastis. Sejak saat itu, tren naik terus berlanjut.
Berikut gambaran pergerakan harga emas ANTAM:
- Awal 2020 sekitar Rp 800.000 per gram
- Awal 2022 sekitar Rp 940.000 per gram
- Awal 2024 sekitar Rp 1.326.000 per gram
- Februari 2025 sekitar Rp 1.667.000 per gram
- Januari 2026 sempat menyentuh Rp 3.168.000 per gram
- Februari 2026 terkoreksi di kisaran Rp 2.947.000 per gram
Lonjakan hampir dua kali lipat dalam satu tahun terakhir tentu memicu pertanyaan besar. Apakah ini puncak sementara atau awal fase harga baru.
Jika melihat sejarah, anggapan “harga emas sudah mahal” hampir selalu muncul setiap kali rekor baru tercapai. Namun dalam jangka panjang, harga emas cenderung membentuk level dasar yang lebih tinggi dari waktu ke waktu.
Mengapa Banyak yang Menyebut 2026 Titik Terakhir Harga Emas Murah
Istilah tahun terakhir emas murah sebenarnya bukan klaim resmi dari satu lembaga tertentu. Ini lebih merupakan kesimpulan dari kombinasi beberapa faktor fundamental yang terjadi bersamaan.
Ada tiga pendorong utama yang membuat narasi ini menguat:
- Ketidakpastian geopolitik global
- Tren de-dolarisasi dan pembelian besar-besaran oleh bank sentral
- Ancaman penurunan produksi emas global atau peak gold
Ketika permintaan meningkat dan suplai berpotensi stagnan atau turun, harga secara teori akan terdorong naik. Kombinasi inilah yang membuat 2026 dianggap sebagai fase transisi menuju harga emas yang lebih tinggi dalam jangka panjang.
Geopolitik Global dan Peran Emas sebagai Safe Haven
Emas selalu menjadi aset safe haven. Saat kondisi dunia tidak stabil, investor cenderung memindahkan dana dari aset berisiko ke aset lindung nilai seperti emas.
Sepanjang 2025 hingga awal 2026, ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China belum sepenuhnya mereda. Konflik di beberapa kawasan juga masih berlangsung. Setiap eskalasi ketegangan biasanya diikuti lonjakan harga emas dalam beberapa bulan berikutnya.
Secara historis, dalam 20 tahun terakhir, setiap terjadi krisis geopolitik besar, harga emas bisa naik 5 sampai 15 persen dalam waktu relatif singkat. Ini menunjukkan bahwa emas bukan hanya instrumen spekulasi, tetapi juga alat proteksi nilai kekayaan.
Jika kondisi global tetap penuh ketidakpastian, permintaan emas berpotensi terus tinggi. Artinya, tekanan kenaikan harga belum tentu berakhir di 2026.
Bank Sentral Dunia Borong Emas Fisik
Salah satu faktor paling kuat yang mendukung kenaikan harga emas adalah aksi akumulasi oleh bank sentral.
Dalam beberapa tahun terakhir, pembelian emas oleh bank sentral global tercatat lebih dari 1.000 ton per tahun selama tiga tahun berturut-turut. Negara seperti China dan Polandia termasuk yang paling agresif menambah cadangan emas mereka.
Mengapa bank sentral melakukan ini?
Alasannya berkaitan dengan diversifikasi cadangan devisa dan pengurangan ketergantungan pada dolar AS. Tren de-dolarisasi membuat emas kembali dipandang sebagai aset netral yang tidak terikat kebijakan satu negara.
Ketika institusi besar dengan daya beli sangat kuat terus menyerap emas fisik, pasokan di pasar menjadi lebih ketat. Situasi ini tentu berpengaruh pada harga dalam jangka menengah hingga panjang.
Inflasi dan Penurunan Daya Beli Uang Kertas
Selain geopolitik, inflasi menjadi alasan klasik namun tetap relevan. Sejak 2020, banyak negara mengalami lonjakan inflasi yang signifikan.
Ketika harga barang naik, daya beli uang menurun. Emas sering digunakan sebagai lindung nilai terhadap inflasi karena nilainya cenderung bertahan dalam jangka panjang.
Jika suku bunga global mulai turun, seperti yang mulai diisyaratkan oleh beberapa pejabat bank sentral Amerika Serikat, maka daya tarik emas sebagai aset non-yield justru meningkat. Biaya peluang menyimpan emas menjadi lebih kecil dibanding saat suku bunga tinggi.
Dalam skenario inflasi tetap tinggi dan suku bunga mulai melandai, peluang harga emas melanjutkan tren naik semakin terbuka.
Fenomena Peak Gold dan Ancaman dari Sisi Produksi
Banyak orang fokus pada sisi permintaan, padahal sisi suplai juga penting. Istilah peak gold mengacu pada kondisi ketika produksi emas global mencapai titik tertinggi dan mulai stagnan atau menurun.
Data beberapa tahun terakhir menunjukkan produksi emas dunia cenderung mendatar. Penemuan tambang besar baru juga semakin jarang. Rata-rata waktu dari penemuan hingga produksi bisa mencapai lebih dari 20 tahun.
Beberapa fakta penting yang perlu diperhatikan:
- Cadangan emas teridentifikasi sekitar 59.000 ton
- Penemuan deposit besar semakin langka
- Kadar bijih emas menurun sehingga biaya produksi meningkat
Jika suplai tidak bertambah signifikan sementara permintaan terus naik, tekanan harga secara logika akan condong ke atas. Inilah salah satu alasan mengapa banyak analis optimistis terhadap harga emas pasca 2026.
Prediksi Harga Emas 2026 dan Setelahnya
Sejumlah lembaga keuangan besar memproyeksikan harga emas dunia bisa menembus 5.000 dolar AS per troy ounce menjelang akhir 2026.
Beberapa proyeksi yang beredar di pasar:
- JP Morgan memperkirakan potensi mendekati 5.000 dolar AS
- Bank of America juga menyebut angka serupa dalam skenario bullish
- Morgan Stanley dan Deutsche Bank memproyeksikan kisaran 4.400 hingga 4.500 dolar AS
Perlu diingat, proyeksi bukan kepastian. Namun ketika mayoritas lembaga besar memiliki pandangan bullish, itu mencerminkan sentimen pasar yang kuat.
Jika harga emas dunia benar-benar mendekati 5.000 dolar AS, maka harga emas domestik berpotensi jauh di atas Rp 3 juta per gram. Dalam konteks itu, harga saat ini bisa saja dianggap murah beberapa tahun mendatang.
Apakah Harga Emas Sekarang Sudah Terlalu Mahal
Pertanyaan paling penting bagi kamu mungkin bukan soal 2026, tetapi soal keputusan hari ini. Apakah masih masuk akal membeli emas di harga sekarang.
Jawabannya bergantung pada tujuan investasi kamu.
Jika tujuan jangka pendek dan berharap kenaikan cepat seperti tahun lalu, risiko koreksi tetap ada. Emas bisa saja turun dalam beberapa bulan akibat sentimen pasar atau penguatan dolar.
Namun jika tujuan jangka panjang untuk menjaga nilai kekayaan, emas tetap relevan. Dalam sejarah puluhan tahun, harga emas memang mengalami fluktuasi, tetapi cenderung membentuk tren naik dalam siklus panjang.
Yang sering terjadi adalah penyesalan karena menunda terlalu lama. Pola ini terlihat sejak harga masih di bawah Rp 1 juta per gram.
Perbandingan Emas dengan Instrumen Lain
Agar lebih objektif, penting membandingkan emas dengan instrumen lain seperti deposito, obligasi, saham, dan properti.
Deposito menawarkan imbal hasil relatif stabil tetapi sering kalah dari inflasi. Saham bisa memberi keuntungan besar namun volatilitasnya tinggi. Properti butuh modal besar dan likuiditas rendah.
Emas berada di tengah. Volatilitasnya tidak setinggi saham, tetapi potensi kenaikannya bisa signifikan saat krisis. Likuiditasnya juga relatif tinggi, terutama untuk emas batangan bersertifikat resmi.
Karena itu, banyak perencana keuangan menyarankan emas sebagai bagian dari diversifikasi portofolio, bukan satu-satunya aset.
Strategi Masuk Pasar di Tengah Harga Tinggi
Alih-alih menunggu harga turun drastis yang belum tentu terjadi, ada pendekatan lebih realistis yang bisa dipertimbangkan.
Salah satunya adalah pembelian bertahap atau dollar cost averaging. Dengan cara ini, kamu membeli emas secara rutin dalam nominal tetap tanpa terlalu memikirkan harga harian.
Pendekatan lain adalah membagi dana ke beberapa instrumen. Sebagian dialokasikan ke emas, sebagian ke instrumen lain. Tujuannya untuk mengurangi risiko jika terjadi koreksi jangka pendek.
Yang terpenting, pastikan membeli emas dari platform resmi seperti ANTAM, Pegadaian, atau aplikasi yang diawasi OJK. Hindari tawaran investasi dengan janji keuntungan tidak wajar.
Jadi Benarkah 2026 Tahun Terakhir Harga Emas Murah
Secara jujur, tidak ada yang bisa memastikan dengan mutlak bahwa 2026 adalah titik terakhir harga emas murah. Pasar keuangan selalu dipengaruhi banyak variabel.
Namun jika melihat kombinasi faktor geopolitik, inflasi, tren pembelian bank sentral, potensi peak gold, serta proyeksi lembaga global, peluang harga emas membentuk level baru yang lebih tinggi memang cukup besar.
Dalam perspektif jangka panjang, harga yang hari ini terasa mahal bisa saja dianggap murah lima atau sepuluh tahun lagi. Sejarah emas selama puluhan tahun menunjukkan pola seperti itu.
Yang perlu dihindari adalah keputusan emosional. Takut ketinggalan bisa berbahaya, tetapi terlalu lama menunggu juga berisiko kehilangan momentum.
Kesimpulan
Benarkah 2026 menjadi tahun terakhir harga emas murah. Jawabannya tidak hitam putih. Tidak ada jaminan harga akan terus naik tanpa koreksi. Namun data historis, kondisi global, serta proyeksi analis menunjukkan bahwa fondasi kenaikan emas masih cukup kuat.
Emas tetap berfungsi sebagai pelindung nilai di tengah inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Jika tujuan kamu adalah menjaga daya beli dalam jangka panjang, emas masih relevan meski harga sudah tinggi.
Keputusan terbaik bukan sekadar menebak puncak atau dasar harga, melainkan menyesuaikan dengan tujuan finansial, profil risiko, dan strategi yang disiplin. Dengan pendekatan yang rasional, kamu tidak perlu terlalu khawatir apakah 2026 benar-benar tahun terakhir harga emas murah atau bukan.
